Thursday, September 11, 2008

UNTUK SI MENCOBA HIDUP

  1. Terpaksa aku tulis balasan buat kamu lewat Blog lagi. Karena kamu tak menulis pesan lewat alamat email kamu sendiri. Atau mungkin akunya yang gaptek, sehingga tak tau cara membalasnya via emailku. Email saja aku di : ariefbedel@yahoo.com
  2. Ya, jadi begini, terima kasih sebelumnya atas komentar yang kamu (maaf namanya siapa?) pada karya-karya fotografi aku. Untuk karya fotografi, aku tak pernah menggunakan sentuhan photoshop, kalau toh menggunakan ya yang terlalu berlebihan. Lain halnya dengan karya digital art, yah ini 100% photoshop. Namanya juga fotografi, ya semaksimal mungkin menggunakan cahaya oleh kamera dalam melakukannya.
  3. Khusus untuk karya FOOTNESS yang kamu tanyakan, aku hanya menggunakan sentuhan photoshop untuk up grade brightness dan contras nya. Selebihnya adalah olah cahaya oleh kamera. Sama halnya juga dengan BORED 3, UNITY dan SPINESS. Tekniknya simple saja. Tinggal kamu atur speed kamera kamu sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan, tentunya dengan mempertimbangkan kadar cahaya yang ada dan object yang akan memantulkan cahaya pada media rekam kamu. Biasanya aku pakai speed-speed rendah, dari 10" sampai 30" bahkan kadang-kadang pakai BULPSPEED.
  4. Nah, teknik selanjutnya adalah memperkirakan object yang akan kamu tembak (shoot) dengan lebih dari 1 (satu) sudut (angle shoot). Artinya, dalam satu kali shoot, kamu bisa berpindah object.
  5. Hasil yang maksimal tak bisa didapat dalam 1 (satu) kali shoot. Cobalah berulang-ulang.
  6. Selamat mencoba.

Wednesday, April 16, 2008

FOOTNESS 2

FOOTNESS

BORED 3

UNITY

SPINESS

BORED 2

BORED

Saturday, March 22, 2008

GREEN WITH THE WIND

GREENSUN

RED AND SUNSET

REDS

Monday, March 3, 2008

2005-2007





2005-2007





2005-2007





2005-2007





Thursday, February 28, 2008

WORK OF SAREH KHAJEHNOURI (IRAN)

I CUT MY HAIR :(

2008

2008

2008

2008

2008

2008

2008

2008

2008

2008

2008

2008

2008

I AM DOG

Wednesday, February 13, 2008

BALI THEATRE


TOGETHER I TRUST


MOTHER AND CHILD


BEFORE SUCKING


FLY


JUST WORK IT


NOT BAD (NARCISM)


Wednesday, February 6, 2008

MY DIGITAL ART NEW VERSION 2

MY DIGITAL ART NEW VERSION

http://jalan-lain.blogspot.com

http://sanasinimanamana.blogspot.com

MY DIGITAL ART 2

BUT IT STILL THE LIGHT SUCKER


MY DEDICATED FOR DSI

MY MASTER (MANTRA) DIGITAL ART

MY DIGITAL ART 1

MONTAGE

WALL PAPER





Tuesday, February 5, 2008

APA ITU DIGITAL ART

Sunday, February 3, 2008

HAPPY BIRTHDAY DSI


BURNING



BROKEN



MENIK (HER NAME)

Saturday, December 29, 2007

BLACK IN GREEN





DOGS FROM BALI




SUPERHERO IS DEAD


MY WALKMATE
























BLACK METAL

FUCKING ALONE
























WHAT THE HELL YEAH

Friday, December 7, 2007

KOMENTAR CERDAS


Arief and Lulut at Art Center, Denpasar Bali (2004)
Taked by Taufan Galaxy (LIGHT SUCKER Lombok)



bung, saya bingung.... karya2 bung itu termasuk photography ato photoshop?
kalo gak salah; photo = cahaya; graph=grafik/lukisan; shop=belanja..
tapi kok kayaknya karya bung sangat "photoshop" bangeet..
sampe mana batasan "belanja cahaya" diperbolehkan di fotografi menurut bung?
gimana klo blog name-nya di ganti arief photoshop :-):-):-)...
mohon pencerahan???


Jawaban untuk pertanyaan cerdas dari mas Lulut di denpasar.
Saya terkesan dengan komentar yang dilontarkan mas Lulut pada beberapa karya “photography” saya yang saya presentasikan melalui media blog. Menurut mas Lulut, karya-karya itu lebih kuat unsur photoshop-nya ketimbang unsur photography-nya.
Sampai-sampai mas Lulut meminta saya untuk mengganti nama blog saya menjadi ariefphotoshop.blogspot bukan seperti sekarang ariefphotography.blogspot.

Alasannya, isme photography yang berlandaskan pada dasar kata yang merangkainya dari kata photo dan graphien yang berarti melukis cahaya tersebut telah “dikotori” oleh unsur “shop” yang menurut mas Lulut berarti belanja. Entah apa hubungannya saya tak paham dengan menuliskan makna shop sebagai belanja disini dengan penggunaan program photoshop sebagai upaya upgrading foto-foto yang saya lakukan.

Yang jelas, saya sangat memahami maksud yang diinginkan mas Lulut atas karya-karya fotografi saya. Adalah telah mengkaburkan bahkan melacurkan makna-makna fotografi ke dalam sebuah permainan “tipu muslihat” kemajuan teknologi komputerisasi visual yang telah saya lakukan terhadap beberapa foto tersebut. Seperti foto-foto yang aslinya berwarna saya rubah menjadi hitam dan putih lalu penambahan toner dan penguatan hue saturation dan permainan brightness dan contrast.

Menurutnya kalau sekedar melakukan cropping untuk menyeimbangkan komposisi itu masih wajar. “Itu pun sering dilakukan pada media fotografi analog”, demikian kata mas Lulut. Sepengenalan saya, mas Lulut memang seorang pegiat fotografi analog yang sedang kepingin menekuni fotografi digital, seperti saya yang toh baru beberapa bulan ini “pindah agama” ke fotografi digital. Jadi bagi saya wajar, jika masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal untuk sekedar mengkritisi dunia baru yang bagi saya sudah mulai saya masuki dan bagi mas Lulut yang sebentar lagi akan masuk ke dalamnya. Demi menjaga esensi fotografi, saya sepakat dengan dialektika yang mas Lulut lemparkan ini.

Menyikapi tipu mslihat visual yang saya lakukan ini, bagi saya adalah sesuatu yang telah lazim dilakukan oleh hampir semua fotografer. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menaikan kesan dari foto-foto yang mereka hasilkan. Entah itu kesan dramatik, horor, ceria, eksotik, lembut (soft) dan lain sebagainya. Yang kesemuanya sangat terbatas dilakukan saat menggunakan media fotografi analog. Bahkan belakangan ada dikenal efek IR atau infra red. Teknik ini menggunakan efek lensa infra red dimana menyerupai teknik cetak invert namun tidak 100 persen. Yang terang jadi menggelap dan yang gelap jadi menerang.

Dalam teknik fotografi dasar, kita telah sama-sama mengetahui jika ingin menggambarkan kesan wibawa, kita me-shoot obyek dengan teknik low angel dan sebaliknya kalau ingin mengesankan kecil, kita memakai teknik high angel. Juga untuk menghilangkan atau mengurangi bayangan sinar matahari saat me-shoot obyek dengan lokasi out door, kita menggunakan blitz. Juga pada teknik cetak sandwich, dimana beberapa klise ditumpuk dan berbagai macam teknik “tipu muslihat” lainnya yang ada dalam fotografi analog..

Sangat amat terbatas jika kita bisa menengok lebih jauh ke belakang. Nah disinilah keunggulan sekaligus kelemahan teknologi fotografi digital dalam hal memanjakan para fotografi maniak. Berbagai teknik fotografi baru ditawarkan. Kalau kita pada waktu menggunakan teknik fotografi analog menggunakan media klise sebagai penyimpan gambar negative dan menggunakan enlarger untuk menyinari klise agar diubah menjadi gambar positif melalui proses developing pada larutan pengembang sehingga mampu tercetak di kertas foto pilihan kita sesuai dengan kualitas dan kesan foto yang kita inginkan. Hanya sebatas itu.

Sedangkan pada teknik fotografi digital, media penyimpanannya adalah memory file baik dalam bentuk memory card atau disc (flashdisc, compact disc, hard disc etc). dan pengolahan gambar tadi sangat beragam media yang mampu menjembataninya. Entah langsung cetak atau melalui proses upgrading yang dipermasalahkan mas Lulut. Sangat teramat banyak software yang amat sangat menjembatani kebutuhan fotografi digital kita. Bukan hanya Photoshop. Kita sangat dimanjakan olehnya.

Namun, sebaliknya juga sekaligus melemahkan kita. Disinilah kematangan kita dalam menjalani hobi fotografi diuji. Sebanyak apapun teknik pengolahan yang ditawarkan kepada kita, jika kita “lahap” semuanya dalam sebuah karya fotografi, saya bisa pastikan karya tersebut akan berubah menjadi momok yang teramat menakutkan bagi kita. Disinilah peran pentingnya ilmu dasar (basic knowledge), termasuk dalam dunia fotografi.

Bagi saya, “tipu muslihat” fotografi sudah terjadi sejak kita menggunakan teknologi analog, namun dengan kapasitas yang sangat terbatas. Hal ini sangat jauh berubah sejak ditemukannya teknologi digital.

Tujuan melakukan “tipu muslihat” fotografi hanya dilakukan untuk kepentingan-kepentingan atau motivasi yang relevan. Disinilah seorang creator harus lebih bisa memaknai dimana batasan-batasan pengolahan gambar sehingga mampu menyelaraskan antara motivasi atau alasan “apa” sehingga “mengapa” dilakukan pengolahan gambar tersebut. Sehingga tidak akan keluar dari kaidah keartitistikan dasar seperti composition, balancing, point of interest, contrasts, harmony. Selama kesemuanya masih bisa dipertanggung jawabkan, semuanya adalah hal wajar, malah justru sangat terpuji

Selanjutnya baru kita memikirkan, apakah karya itu mampu mencerdasakan, merubah gaya hidup, merubah tradisi kemudian merubah peradaban. Mas Lulut, masih jauh ternyata perjalanan kita. Yok, kita jalan lagi.






Saturday, December 1, 2007

AIDS = BULL SHIT

BULL SHIT.......!

INFECTED OR NOT

WE STILL DIE



Wednesday, November 28, 2007

PICTURE OF THIS MONTH


DEAD PRICE

MY GURU (I miss you all)


ALI ROBIN


MANTRA


IMTIHAN TAUFAN


GEREDEG

Sunday, November 25, 2007

MBAK IRA*










COMPOSITION














COMPOSITION*













LIGHT IS THERE













BLACK BUT AND WHITE**










BLACK BUT AND WHITE *










BLACK BUT AND WHITE













Monday, November 19, 2007

LONELY




BODY LANGUAGE



Sunday, November 18, 2007

STAGE


FIGURE OF SURA


SPIRIT OF KADEK


THRAUMA OF BLACK BOX


THE CHAIRS OF EUGENE IONESCO

COMPOSITION


COMBINATION


LOCKED


SURF WITH BLUE


HEAD FLOWER

WINDOW SHOPING 2


EYE WITH FLOWER


DEAD PRICE

BLUE IS BLUES









BYCICLE DIARY


BBMC MOTHER CHAPTER, BRAGA 36 (BANDUNG, WEST JAVA)


FORT OF SURAKARTA PALACE (SOLO, CENTRAL JAVA)


NGANJUK, BEFORE SARADAN FOREST (EAST JAVA)


BY PASS MOJOKERTO JOMBANG (EAST JAVA)


SUKAWATI GATE (BALI)

Tour de Lombok, Bali and Java. (January - Pebruary 2007)

Saturday, November 17, 2007

NEW BEGINNING


HOT DAY



HARD LIFE



MORNING FRESH



GREEN

COAST


BLACK SHADOW



BLACK SUNRISE



DARK COAST



BEAUTIFUL BLACK

LIGHT SUCKED


SPY WINDOW



LIGHT



LIGHT AND WIND

WINDOW SHOPING


BEAUTIFUL WINDOW


DUSTY WINDOW


RED AND SILK


LEG AND LIGHT


RED CLOSE